Pengalaman Berbahasa

Halo semua! Tulisan kali ini berbeda dari biasanya. Kali ini adalah kali pertama saya ikut Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog. Sebagai anggota baru, sepertinya belum sah kalau belum ikut tantangan bulanan di komunitas kece ini. Tantangan kali ini adalah menceritakan pengalaman berbahasa seumur hidup. Pengalaman berbahasa yang akan saya ceritakan kali ini adalah berdasarkan pengalaman berbahasa saya sendiri selama 31 tahun hidup berpindah dari satu kota ke kota yang lain.


1997, Dari Bangli ke Bekasi: Dari Aku-Kamu, Menjadi Gua-Elu

Bangli adalah nama suatu daerah di Bali, terletak kira-kira 60 km dari Kota Denpasar. Disinilah saya menghabiskan masa kecil. Ketika usia saya menginjak hampir 7 tahun, saya pindah ke Bekasi mengikuti orang tua saya yang dipindahtugaskan dari Bangli ke Bekasi. Saya ingat betul kejadiannya adalah ketika saya kenaikan kelas dari kelas 1 ke kelas 2. Maka, resmilah saat itu saya menjadi seorang anak baru, di sekolah yang baru, di kota yang baru, dengan kebiasaan yang baru, termasuk di dalamnya kebiasaan berbahasa yang baru. Dari sebuah daerah tentram bernama Bangli, menuju ke daerah metropolitan bernama Bekasi. BEKASI. Iya, pindah ke Bekasi yang konon katanya mataharinya ada dua saking panasnya.

Ada Dua Matahari di Bekasi
Sumber gambar: Mindtalk.com

Kekagetan utama di sekolah saya baru adalah soal bahasa pergaulan. Saya yang terbiasa menggunakan “aku-kamu”, kemudian kaget menemui anak-anak di sekolah baru yang hampir semua menggunakan “gua-elu”. Iya, anak-anak kecil itu sudah fasih menggunakan “gua-elu” sebagai bahasa pertemanan mereka, terutama anak laki-laki. Pada awal-awal sekolah, saya canggung sekali. Saya merasa berbeda. Meskipun mereka menggunakan Bahasa Indonesia, tapi logat bahasa yang digunakan mereka sungguh berbeda dengan yang saya biasa gunakan. Tidak jarang, saya tidak paham apa yang mereka bicarakan. Saya seperti merasa asing.

Pernah suatu kali, ada seorang anak laki-laki mengatakan seperti ini kepada saya, “ih, dasar norak, anak baru.” He? Norak? Apa itu? Saya cuma bengong saja. Ketika saya tanyakan ke teman saya yang lain apa itu arti kata norak, mereka hanya tertawa saja.

Pada akhirnya, entah bagaimana ceritanya waktu itu, entah karena takut tidak memiliki teman atau memang karena pengaruh lingkungan yang sedemikian besarnya, maka perlahan-lahan pun akhirnya saya ikut menggunakan bahasa β€œgua-elu” sebagai bahasa pergaulan sehari-hari.

Gua-elu, norak, lah bagen, et deh bocah ngadat, kagak lah, buset deh, awalnya itu semua tidak ada di kamus saya. Tapi, lama kelamaan, seiring dengan saya tinggal bertahun-tahun di Bekasi, bahasa-bahasa itu menjadi sangat lumrah di telinga saya. Coba, mana yang ngerti bahasa Bekasi, yuk cung!

Sebagai anak yang besar di Bekasi, ku bangga tinggal di Bekasi!
Sumber Gambar: Kobayogas

2007, Dari Bekasi ke Bandung: Aku-Kamu, Gua-Elu, Aing-Maneh

10 tahun tinggal di Bekasi, kini saya sudah menjelma jadi warga Bekasi yang sudah sangat ngelotok menggunakan gua-elu sebagai bahasa pertemanan sehari-hari. Selama tinggal di Bekasi, saya menemukan fakta adanya pergeseran makna dari bahasa aku-kamu. Bahasa aku-kamu itu lebih condong digunakan pada mereka yang memiliki hubungan spesial. Singkatnya, penggunaan aku-kamu adalah untuk mereka yang pacaran. Eh, si anu udah jadian deh kayanya sama si eta, ngomongnya aja udah pake aku-kamu. Nah, dulu ketika di zaman sekolah menengah, saya sering sekali mendengar pernyataan-pernyataan seperti itu.

Bahasa aku-kamu lebih condong digunakan pada mereka yang memiliki hubungan spesial.

-pengamatan saya selama 10 tahun jadi warga Bekasi


Ketika saya pindah ke Bandung di tahun 2007 untuk kuliah, tantangan berbahasa kemudian muncul kembali. Bagi saya, penggunaan gua-elu itu kurang netral untuk dipergunakan sehari-hari di Bandung, terutama mengingat bahwa yang kuliah di Bandung kan bukan hanya anak Jakarta (dan sekitarnya) saja. Ada dari Aceh sampe Papua, yang mana pastinya mereka tidak menggunakan gua-elu sebagai bahasa pergaulan. Di awal masuk kampus, saya pun berusaha menggunakan bahasa netral, saya-kamu atau aku-kamu.

Tapi, alangkah kagetnya saya, ketika justru saya banyak mendengar penggunaan gua-elu di kampus. Gua-elu dengan logat yang bermacam-macam. Ada yang memang terdengar pas, tapi tak jarang juga terdengar maksa. Nah, bingung kan saya. Jadi, gua-elu ini udah jadi bahasa nasional pergaulan kah? Kenapa seperti semua orang jadi menggunakan gua-elu disini? Kenapa semua orang tidak menggunakan bahasa pergaulan yang lebih netral ya? Karena kondisi seperti itu, maka jadilah saya kembali ber gua-elu. Pokoknya yang ngomong gua-elu ya saya lanjut gua-elu, kalau ngomong aku-kamu ya lanjut pake aku-kamu.

Bingung deh, aku-kamu apa gua-elu ya?

Selain penggunaan gua-elu, yang lumayan sering terdengar juga penggunaan kata aing-maneh. Dulu, saya sempat beberapa kali ikut menggunakan aing-maneh, lalu kemudian dimarahi oleh teman saya yang asli Bandung, penutur asli Basa Sunda. Kata dia, penggunaan kata aing itu kasar sekali, sebaiknya tidak digunakan. Okelah, saya menurut saja. Saya diberitahu langsung oleh yang punya bahasa, masa saya gak menurut?


2018, Karena Ku Bukan Orang Jawa Tulen

Saya adalah keturunan Jawa Tengah dari Bapak, keturunan Sulawesi dari Ibu, lahir di Kupang, masa kecil di Bangli, besar di Bekasi, dan kuliah di Bandung. Saya sama sekali tidak bisa Bahasa Jawa, karena saya tidak pernah berada dalam lingkungan yang membuat saya bisa berbahasa Jawa. Sepakat kan, kalau kemampuan berbahasa itu sangat dipengaruhi lingkungan? Seperti saya yang kemudian fasih bergua-elu karena 10 tahun tinggal di Bekasi. Kejutannya adalah, saya menikah dengan orang Jawa Timur tulen. :))

Pada lebaran 2018, saya mudik ke kampung halaman suami. Seperti biasa, kita pergi keliling ke sanak saudara, terutama yang sudah sepuh. Saat itu, kami baru 3 tahun menikah, masih ada beberapa mbah-mbah yang belum familiar dengan saya. Ketika bertemu mereka, saya selalu ditanya, “oh, ini bojonya Arief?” kurang lebih artinya, “oh, ini pasangan (istri)nya Arief?”. Nah, hingga suatu waktu, karena ingin terasa akrab, saya berkata seperti ini ke salah seorang, yang mana beliau sudah agak sepuh, “iya mbah, ini saya bojonya Arief.” Mereka yang mendengar langsung menengok ke saya. Lalu, saya dibisiki, “mbak, bojo itu jangan dipakai ke yang lebih tua.”. Ya ampun, ya mana saya tahu yah.

Saya memang hanya separuh Jawa.
Sumber gambar: Meme Generator

Kejadian itu murni kesalahan saya sih. Saya menggunakan bahasa tanpa mempelajari lebih lanjut tentang penggunaannya. Asal ngomong saja biar terlihat nyambung. Walhasil, mau terlihat nyambung malah jadi salah sambung.


2021, Beli Duren Sama Saya Aja, Pak!

Di tahun ini, saya tinggal di Pontianak mengikuti tugas suami. Bulan-bulan kemarin adalah bulan musim durian, dimana duriannya harum-harum, besar, legit, dan manis, semuanya dijual hampir di sepanjang jalan. Kami yang merupakan pecinta durian, tentu tergoda untuk membelinya. Suami bercerita kepada temannya hendak membeli durian, apa tipsnya. Salah satu tips dari teman suami yang merupakan warga lokal Pontianak adalah, “Bapak gak usah beli, saya aja yang belikan. Mobil bapak plat B dan logatnya bukan logat sini, nanti dikasih mahal”.

Familiar dengan kalimat di atas? Pernah mengalaminya juga? Dan memang benar. Suatu kali kami pun membeli durian sendiri. Kami diberi harga 25.000 rupiah. Beberapa minggu setelahnya, suami membeli durian bersama dengan temannya yang warga lokal itu. Untuk durian dengan ukuran yang tidak jauh berbeda, dengan rasa lebih enak, mereka dapat harga 10.000 rupiah. Jadi ingat, dulu ketika masih kuliah di Bandung, kalau ketemu penjual sate yang orang Madura asli, suami saya langsung berbahasa Madura. Kalau pas beruntung, nanti dikasih tambahan sate gratis.

Yang Suka Durian Silakan Merapat.
Image by hartono subagio from Pixabay

Bertemu dengan orang yang memiliki kesamaan bahasa mungkin membuat kita merasa bertemu dengan saudara sendiri, terlebih ketika kita berada di perantauan, sehingga tidak ada salahnya memberikan lebih kepada mereka yang terasa seperti saudara.


Bonus: Bahasa Indonesia di Eropa

Tahun 2016 silam, saya ikut suami tugas belajar ke Delft, Belanda. Semua orang sudah tahu kalau di Belanda ini orang Indonesianya banyak sekali. Delft saja, yang kota kecil, sering sekali saya bertemu secara tak sengaja dengan orang Indonesia. Entah itu di bus, stasiun, kereta, atau sekadar di pinggir jalan. Nah, yang unik adalah, ketika saya di Belanda, saya sering sekali ketemu orang-orang Belanda yang bisa berbahasa Indonesia, meski itu sekadar ucapan, ‘Selamat pagi’.

Entah mungkin karena muka saya muka Indonesia sekali, beberapa kali saya sering disapa, “Hey, Selamat Sore!” ketika saya berjalan-jalan sore. Bahkan, pernah saya bertemu dengan sepasang kakek-nenek. Ketika melewati mereka, mereka langsung menyapa, “Halo! Orang Indonesia ya?” Mungkin mereka mendengar saya dan suami yang berbahasa Indonesia. Ternyata, usut punya usut, si kakek ini dulu pernah tinggal di Indonesia. Dia lancar sekali berbahasa Indonesia.

Bahkan Visit Indonesia pun sampai di Berlin (Foto: Dokumen Pribadi, Berlin 2016)

Tidak hanya di Belanda, bahkan ketika saya berkunjung ke Menara Eiffel, ada seorang penjual cenderamata datang menghampiri saya dan langsung menawarkan dagangannya dengan berkata, “Ayo beli, murah, 1 euro dapat lima!” Fasih sekali bicara dengan Bahasa Indonesia. Mungkin mereka sering ketemu orang-orang Indonesia yang sedang pelesiran ke Paris. Pernah juga ketika saya di Bandara di salah satu kota di Eropa, saya lupa kotanya apa, saya diminta melepas sepatu untuk pemeriksaan. Si petugas tidak berbahasa Inggris sehingga saya tidak mengerti apa yang dia maksud. Lalu, ada seorang petugas lain yang kemudian menyebut, “Sepatu, lepas sepatu.” Lah, kok dia bisa bahasa Indonesia?


Penutup

Begitulah pengalaman berbahasa saya. Jika kilas balik dari pengalaman berbahasa saya di atas, saya bisa mengatakan bahwa, memang Bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu bangsa, tapi tidak semerta merta dengan berbahasa Indonesia saja cukup mempersatukan kita. Ada bahasa daerah lain yang perlu kita kuasai agar bisa terasa menyatu dengan lingkungan tersebut. Sebagaimana saya yang dahulu dianggap aneh ketika menjadi anak baru dan menggunakan bahasa aku-kamu di awal saya pindah ke Bekasi.

Bahasa amat dipengaruhi oleh lingkungan. Contohnya saya yang hanya keturunan Jawa namun tidak dibesarkan di lingkungan Jawa, saya pun tidak bisa sama sekali Bahasa Jawa. Bahasa Bekasi, meskipun saya bukan asli Bekasi, namun pada akhirnya sedikit banyak paham Bahasa Bekasi, dan cara bicara saya pun sangat terpengaruh oleh logat Bekasi.

Penggunaan bahasa tidak bisa hanya asal ucap dan hanya tren saja. Penggunaan bahasa yang tidak tepat malah cenderung membuat tidak nyaman, terutama bagi penutur asli bahasa tersebut. Sebagaimana teman saya yang tidak nyaman ketika saya menggunakan kata aing, dan juga ketika saya sok-sok an berbahasa jawa tanpa tahu penggunaannya dengan tepat.

Bahasa adalah pemersatu. Ketika kita mendengar ada orang yang berbicara dengan bahasa yang sama dengan kita, atau setidaknya memiliki logat yang familiar di telinga kita, entah kenapa kita jadi seperti bertemu dengan orang yang dekat dengan kita. Menjadi seperti bersaudara. Maka, tidak heran saya langsung menyambut ramah ketika ada bapak-bapak bule yang menyapa saya dengan, “selamat sore”. Tidak heran juga ketika penjual cenderamata di Paris berusaha menggunakan bahasa Indonesia ketika menjajakan jualannya, agar terdengar akrab dengan harapan kita mau membeli dagangannya.

Kesimpulannya adalah, berbahasalah dengan baik. Sepele memang untuk diucapkan. Tapi, pelaksanaannya jauh lebih rumit. Apalagi bagi mereka yang tinggal di kota yang penuh dengan orang perantauan dari berbagai macam suku bangsa. Bahasa yang halus menurut si A, belum tentu halus menurut si B, begitu juga sebaliknya. Pahami bahasa setempat dengan baik, karena seperti yang ditulis sebelumnya, penggunaan bahasa yang tidak tepat bisa membuat tidak nyaman bahkan mungkin bisa menjadi miskomunikasi.

Bahasa adalah pemersatu. Dengan orang yang berbahasa sama, saya merasa lebih dekat dan akrab. Dengan berbahasa yang baik, benar, dan tidak asal ucap, membuat kita bisa terhubung satu sama lain, bahkan dengan jauh lebih dalam.

-ibuchandrariska, Tantangan MGN September ’21

4 thoughts on “Pengalaman Berbahasa

    1. Iyaa teh. Saya malah pas skrg jadi jarang pake gue elu. Ya kali ngobrol sama mamak-mamak komplek pake gue elu. πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s