Berangkat Survei ke Manado (Bagian 1)

Apa yang ada di benak teman-teman ketika mendengar ‘Manado’? Apalagi kalau bukan wisata bawah lautnya yang paling terkenal itu. Bunaken. Tapi, dalam tulisan ini, alih-alih bercerita tentang perjalanan bawah laut Bunaken, saya akan bercerita tentang perjalanan survei lapangan saya, yaitu menelusuri hutan dan semak-semak di beberapa titik di Sulawesi Utara. Perjalanan ini tentu saja dilakukan karena tuntutan pekerjaan ya. Kalau bukan karena pekerjaan, ya ngapain?


Perjalanan di Tahun 2013 untuk Sebuah Proyek Jalan

Tahun 2013 silam, sekitar 9 tahun yang lalu, saya bekerja di konsultan perencanaan sipil, di bagian perencanaan jalan. Pada waktu itu saya ikut serta dalam tim perencanaan jalan. Sekarang, proyeknya sudah selesai, sudah diresmikan, dan sudah beroperasi. Ketika tahu proyeknya selesai dan sudah diresmikan, saya ikut terharu.

Kenapa saya terharu? Karena saya membayangkan betapa bertahun-tahun sebelumnya saya pernah turut serta dalam proyek tersebut. Dulu, proyeknya hanya sebatas lembaran kertas A3 dengan revisi yang tak terhitung jumlahnya, tumpukan berbagai macam laporan, gulungan-gulungan gambar, malam-malam penuh lembur, pertemuan dan diskusi panjang bersama senior dan klien serta para mitra, data-data proyek bergiga-giga byte, AutoCAD yang bolak-balik fatal error karena tidak kuat loading gambar, dan banyak lagi kenangan lain. Sekarang, proyeknya sudah terbangun dan sudah mulai beroperasi.

Ketika MGN mengumumkan tema Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini adalah pengalaman travel yang berkesan, saya teringat akan Manado. Maka, saya putuskanlah untuk bercerita tentang perjalanan saya hampir 10 tahun lalu. Bukan perjalanan wisata, tapi perjalanan survei lapangan yang proyeknya cukup mengena di hati saya.

Tulisan ini dibuat dalam rangka menjalankan tantangan MGN bulan Februari: Pengalaman Travel yang Berkesan

Ketika ke Manado Pertama Kali

Pertama kali saya ke Manado adalah di awal Januari 2013. Seingat saya, ini adalah perjalanan yang mendadak. Diberitahu di pagi hari kalau esok pagi akan ada rapat bersama instansi di Manado, sehingga malam itu juga saya harus berangkat menggunakan penerbangan terakhir ke Manado yang ada di hari itu. Jreng jreng. Begitulah kehidupan saya dulu. Seringkali mendadak. Segala dokumen, siap tidak siap pokoknya semua harus siap. Ada yang ritme kerjanya sama seperti ini juga?

Berhubung dulu saya masih memulai karir, belum menikah, belum punya anak, belum punya tanggungan apa pun, dan masih menikmati pekerjaan saya, jadi saya senang-senang saja disuruh berangkat meskipun mendadak. Ke Manado, untuk pertama kalinya, menginap di hotel nyaman, dan gratis pula. Perjalanan hanya dua hari, jadi tidak terlalu repot menyiapkan apa saja yang harus dibawa. Berbekal satu tas ransel isi laptop dan dokumen, serta satu tas jinjing kecil isi peralatan pribadi, saya siap berangkat.

Perjalanan Dinas Rasa Staycation

Sejujurnya saya sedang lelah dan mumet sekali di minggu-minggu itu, karena di beberapa pekan terakhir harus lembur hingga tengah malam untuk menyelesaikan revisi yang sudah mepet tenggat waktu. Maka, ketika diminta berangkat ke Manado, saya senang sekali. Hitung-hitung rehat sejenak dari kemumetan saya.

Naik pesawat penerbangan terakhir di hari itu, saya dan Pak Bos tiba kurang lebih hampir pukul 12 malam WITA. 3 jam perjalanan nonstop di udara sukses membuat perut lapar nan keroncongan karena belum sempat makan malam dan maskapai juga tidak menyediakan makan. Ketika sudah tiba di pintu kedatangan, terlihat Pak Driver sudah menunggu di depan pintu kedatangan. Nampaknya sudah akrab sekali dengan Pak Bos.

Tanpa banyak basa-basi, kami langsung masuk ke mobil. Pak Bos langsung mengarahkan Pak Driver untuk singgah sebentar makan nasi kuning. Pak Driver yang sepertinya sudah hapal dengan Pak Bos, langsung paham kemana kami harus menuju. Saya sebenernya dalam hati heran, apa iya masih ada warung yang buka tengah malam begini. Tapi, ternyata memang ada warung yang buka. Dan, baru kali itu lah saya makan nasi kuning khas Manado. Enak.

Nasi Kuning Manado: mirip dengan nasi kuning yang ada di Jawa, hanya saja dilengkapi dengan suwiran ikan. Photo dari sini, karena saya tidak sempat memotret, sudah keburu lapar.

Setelah kenyang, kami langsung menuju ke hotel. Yang paling bikin saya senang adalah saya mendapat satu kamar sendiri (ya kan bosnya cowok yaa, jadi pasti beda kamar lah ya). Ketika sampai kamar hotel, rasanya senaang sekali. Setelah minggu-minggu panjang penuh lemburan di kantor, saya seperti dihadiahkan berlibur staycation di hotel. Ditambah lagi, tersedia bathtub di kamar mandi. Langsung lah berendam air hangat. Rasa lelah seketika hilang.

Hotel Aston, hotel pertama saya di Manado

Hal Baru nan Menarik di Rapat Manado

Keesokan harinya, saya sudah siap untuk berangkat. Tidak banyak agenda hari itu. Bertemu dengan Pemda setempat untuk membahas perubahan trase, lalu kunjungan lapangan ke beberapa titik-titik penting , dan diakhiri dengan makan bersama.

Tiba di lokasi rapat

Ada satu hal yang paling menarik dan membuka wawasan saya ketika rapat instansi di Manado ini. Yaitu doa yang digunakan ketika membuka rapat. Berdasarkan pengalaman saya selama ini, berkaitan dengan doa, terutama ketika di sekolah, doa yang umum digunakan adalah doa dari muslim (membaca Al-Fatihah, doa dalam bahasa Arab, dsb), dan agama lain diminta untuk menyesuaikan. Salam pembuka yang umum digunakan pun adalah Assalamualaikum.

Ketika saya ikut rapat di Manado ini, saya baru tahu bahwa doa yang digunakan adalah doa dari rekan-rekan kristiani. Hal ini wajar saja bagi saya, mengingat mayoritas masyarakat Manado adalah umat kristen. Saya sama sekali tidak masalah akan hal ini. Saya malah merasa ini adalah hal yang menarik, dan semakin menyadarkan saya bahwa Indonesia itu benar-benar beranekaragam. Isinya bukan hanya suku, agama, maupun golongan tertentu saja.

Sore harinya saya sudah berada di hotel lagi. Bersantai di kamar menikmati waktu. Mengerjakan laporan perjalanan sembari menonton TV. Kapan lagi bisa nonton TV? Apalagi kali ini ada siaran TV kabel. Netflix dan sejenisnya belum ada waktu itu. Jadi, bisa menonton siaran TV kabel adalah suatu kemewahan bagi saya.

Wisata Ketika Perjalanan Dinas? Kerja ya Kerja dong

Di hari kedua saya di Manado, agenda awal kami adalah rapat kembali dengan instansi lain. Di pagi harinya, ketika saya sudah siap, lalu diberi kabar gembira lain oleh Pak Bos: rapat dibatalkan. Horee, saya tersenyum senang. Berarti hari itu kami free. Pesawat kami untuk kembali ke Jakarta masih sore hari, jadi kami masih punya waktu kosong.

Di benak saya waktu itu adalah, wah asik nih, saya bisa jalan-jalan wisata keliling Manado sebentar. Makan pisang goreng plus sambal dabu-dabu di pinggir pantai. Namun, itu cuma ada di angan saya saja, karena Pak Bos lebih memilih berkeliling kota untuk survei sekilas proyek lain yang juga sedang on-going. Ya salah juga sih berpikir untuk jalan-jalan, saya kan kesini untuk kerja, ye kaan.

Tangkapan kamera terbaik dari dalam mobil sembari melakukan perjalanan keliling kota

Perjalanan kami pun ditutup dengan berhenti di toko oleh-oleh. Saya beli dua loyang klapertaart. Selanjutnya, kami makan siang di dekat Bandara Sam Ratulangi, dan menuju Bandara untuk terbang kembali ke realita Jakarta. Dadah Manado, sampai jumpa lagi.

Pesawat yang akan kami tumpangi baru datang. Ketika tahu pulangnya saya naik Garuda, saya bahagia, karena saya tahu saya tidak akan kelaparan selama 3 jam perjalanan di udara.

Penutup

Itulah cerita pembuka saya tentang perjalanan saya di Manado. Hal utama yang saya petik dari perjalanan pertama ini adalah, ketika perjalanan dinas, ya fokus perjalanan dinas, jangan mikirin wisata gratisan. Kalau bisa dapat kesempatan bekerja sambil wisata, ya bersyukur. Tapi, jangan berharap.

Lagi kerja ya fokus kerja. Lagi wisata ya fokus wisata.

ibuchandrariska, ketika perjalanan dinas pertama ke Manado

Perjalanan pertama ini hanyalah perjalanan pembuka dari perjalanan-perjalanan selanjutnya yang jauh-jauh lebih seru dan menantang. Seperti apa ceritanya? Silakan baca disini: Berangkat Survei ke Manado (Bagian 2). Yang jelas, selama saya melakukan perjalanan ini, saya tidak pernah berkunjung ke tempat wisata manapun di Manado. Bunaken, Tomohon, Selat Lembeh. Paling mentok sampai ke Pelabuhan Bitung saja. Itu juga cuma lihat tumpukan kontainer.

One thought on “Berangkat Survei ke Manado (Bagian 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s