Berangkat Survei ke Manado (Bagian 2)

Halo teman-teman semua! Kali ini saya akan melanjutkan cerita saya tentang perjalanan survei ke Manado yang merupakan bagian dari pekerjaan saya sebagai konsultan perencana sipil. Cerita saya sebelumnya bisa dibaca disini: Berangkat Survei ke Manado (Bagian 1).

Ide saya menulis tentang Manado adalah dari Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini tentang pengalaman travel yang berkesan. Bagi saya, Manado punya kesan tersendiri bagi saya. Kenapa berkesan? Karena proyek di Manado ini adalah proyek terlama saya selama saya berkarir di konsultan perencana. Di proyek ini, banyak sekali pelajaran dan pengalaman yang tak terlupakan, dan mungkin hanya sekali dalam seumur hidup saya. Salah satu pengalaman tak terlupakannya adalah perjalanan survei yang saya tulis ini.

Meski belum pernah kembali kesana lagi, tapi tetap saja dengan mengingatnya selalu menyenangkan.

Tulisan ini dibuat dalam rangka menjalankan tantangan MGN bulan Februari: Pengalaman Travel yang Berkesan

Selama mengerjakan proyek ini, biasanya kunjungan ke Manado saya tidak jauh-jauh dari 2 hal, yaitu rapat dengan instansi atau survei lapangan, atau bisa keduanya. Kalau rapat instansi sih, secara umum sama saja dengan rapat instansi pada umumnya. Yang paling membedakan adalah snack rapat yang disajikan. Satu makanan yang paling saya ingat disajikan ketika rapat adalah dodol. Dodolnya beda dengan dodol di Jawa. Dikenal dengan nama dodol kenari atau dodol amurang. Dibuat dari gula aren, beras ketan, dan minyak kelapa murni dan dibungkus dengan daun kelapa atau janur. Nikmat sekali. Saya sampai diberikan beberapa dodol untuk dibawa pulang oleh salah satu ibu-ibu peserta rapat. Mungkin beliau tahu saya suka. :))

Dodol Kenari dari Manado. Sumber: ksmtour.com

Perjalanan Menuju ke Sungai

Oke, mari kita sekarang bercerita tentang perjalanan survei. Dalam suatu perjalanan survei, agenda kami adalah bersama tim topografi ikut survei lapangan. Saya tentu tidak akan ikut survey topo secara keseluruhan, tapi kali ini saya ikut juga untuk mengetahui kondisi riil sungai yang nantinya akan melintasi trase jalan kami.

Medan perjalanan menuju sungai lumayan menantang bagi saya yang tidak pernah hiking, trekking, apalagi naik ke puncak gunung, karena perjalanan kali ini adalah menelusuri pepohonan dan semak-semak serta jalan berbatu. Bagi mereka yang sudah biasa keluar masuk hutan dan gunung, mungkin ini hal yang biasa saja, karena memang sebenarnya medannya tidak perlu sampai membutuhkan peralatan khusus. Bekal utama hanyalah kekuatan kaki dan kekuatan napas.

Dari Tanah Lapang ke Semak dan Hutan

Berdasarkan basic design, trase jalan melewati medan yang cukup beragam. Di survei kali ini, kami pun mencoba mencari tahu secara langsung medan seperti apa yang dilalui oleh trase jalan nantinya.

Lalu, bertemulah saya dengan sapi yang sedang nikmat memakan rumput di padang luas, jejeran pohon, dan semak-semak. Perjalanan kami pun ditutup dengan minum air kelapa hasil petik langsung dari pohonnya, diberikan gratis oleh salah seorang warga lokal.

Perjalanan belum usai. Setelah kenyang menghabiskan satu butir kelapa, sekarang saatnya menuju hutan. Sebelum perjalanan survei ini, satu-satunya hutan yang pernah saya kunjungi adalah Taman Hutan Raya Dago alias Tahura di Bandung. Medannya pun sangat gampang karena jalannya sudah rapi dan sudah dipaving. Tapi, kali ini saya masuk hutan sungguhan. Yang jalannya masih setapak, batu, dan tanah becek. Pohon-pohon tinggi menemani kami sepanjang jalan. Perjalanan ini pun sukses membuat sepatu saya dan rekan survei saya tiba di akhir hayatnya.

Di akhir perjalanan hari itu

Melihat Kuala Alias Mata Air

Perjalanan lain yang saya lakukan adalah perjalanan melihat kuala. Kuala yang dimaksud adalah kolam air yang cukup besar, dimana airnya berasal dari mata air yang memancar dari batu di dasar kuala. Berdasarkan informasi dari tim topo, trase jalan kami melewati mata air yang masih dipergunakan oleh warga setempat. Kami pun menuju kesana untuk mengecek kondisinya.

Bagaimana medan perjalanan menuju kesana? Yaah, sama lah dengan perjalanan sebelumnya. Harus masuk ke hutan-hutan dulu sebelum bertemu dengan mata airnya.

Kuala 1, ukurannya agak kecil, sepertinya jarang terpakai

Penutup

Seperti yang saya ceritakan di awal tulisan, selama 3 tahun bekerja di konsultan perencana, bagi saya proyek Manado inilah yang memberikan kesan mendalam. Yang paling membuat berkesan tentu saja perjalanan surveinya. Meninjau sungai, bertemu semak, masuk hutan, dan untuk pertama kalinya melihat kuala, itu pengalaman yang tak terlupakan seumur hidup bagi saya. Bahkan, bisa jadi malah itu adalah once in a lifetime experience.

Sekarang, saya sudah menyatakan diri untuk pensiun dari dunia pekerjaan ini. Saya suka pekerjaannya, tapi mencoba realistis karena ritme pekerjaan ini kurang pas dengan kondisi yang ada pada saya sekarang.

Bagi saya, masalah pekerjaan, lakukan apa yang sekiranya mampu dilakukan. Bisa dapat pekerjaan yang sesuai dengan passion dan hobi dan keinginan? Itu lebih bagus lagi. Kalau tidak, ya coba dijalani, disyukuri, dan dinikmati.

Kenapa dulu saya mau kerja di konsultan? Karena saya tertarik dengan apa yang dikerjakan. Gajinya? Jangan tanya, hahaa. Yang penting jangan dibandingkan dengan kawan-kawan di BUMN apalagi di Oil and Gas (jaman saya dulu, kerja di OG ini prestisius sekali). Tapi, karena menurut saya apa yang saya dapat sudah cukup dan karena saya tertarik dengan pekerjaannya, jadi ya saya fun saja menjalaninya. Gaji menurut saya akan mengikuti skill yang saya kembangkan seiring berjalannya waktu kelak.

Tapi, ternyata seiring berjalannya waktu, dengan beberapa alasan, akhirnya saya pun mundur dari pekerjaan ini, dan pindah ke perusahaan yang lini bisnisnya masih selaras, sama-sama tentang jalan, dari konsultan perencana jalan menuju ke investor jalan tol. Saya pun bertemu kembali dengan proyek yang sama namun dengan peran yang berbeda. Namun, ternyata tidak berlangsung lama, karena akhirnya saya pun resign dan memilih untuk tinggal bersama suami hidup mengarungi belahan dunia yang lain #ceilaah, bahasanyaa.

Jika ditanya, apakah saya sedih meninggalkan pekerjaan yang saya suka? Sempat sedih sih, tapi, ya sudah lah. Bagi saya, saya sudah memilih yang terbaik, yang sesuai dengan kondisi saya. Namanya hidup kan penuh pilihan. Lagipula, ini kan pilihan hidup saya sendiri. Yakinlah itu yang terbaik.

Welcome to wherever you are, this is your life, you made itu this far. Welcome, you gotta believe. That right here, right now, you’re exactly where you’re supposed to be.

bon jovi, welcome to wherever you are

Bonus: pemandangan dari hotel tempat saya menginap

Selamat pagi dari Manado

Catatan:

Perjalanan survei di atas tidak dilakukan dalam satu kali perjalanan yang sama, namun dalam beberapa kali perjalanan yang berbeda. Selain perjalanan survei di atas, masih panjang lagi cerita survei di Manado yang memang tidak dituliskan oleh saya. Cerita survei yang saya pilih untuk diceritakan adalah perjalanan yang benar-benar membekas bagi saya. Kalau nanti saya cerita survei lengkap mah nanti saya kayak bikin Laporan Survei Lapangan dong. ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„.

11 thoughts on “Berangkat Survei ke Manado (Bagian 2)

  1. Salah fokus dengan foto dodolnya, hhmmmm… ๐Ÿ™‚ Kok di rumah makan Manado, belom pernah nemu ya ehehe.

    RIP sepatu converse-nya Mamah Riska ehehe. Saya jadi mendapat pelajaran dari tulisan Teh Riska, bahwa kalau trekking, sebaiknya memakai sepatu yang khusus buat hiking ehehehe.

    Like

    1. Iyaa Teh Uriil. Kayanya emang jarang yg jual. Pas ke Manado pun ketemunya pas lagi rapat aja.

      Iyaa teh, sebelum-sebelumnya saya blm pernah survey seheboh dan sampe berhari-hari kaya gini, makanya santuy bgt persiapannya. Eh gak taunya, malah medannya begitu. ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†

      Like

    1. Iyaa Teh Dewi, bersih memang disana, tp kurang tau jg kalo skrg. Semoga masih bersih juga.

      Bener teh, menikmati setiap episode hidup itu yg penting ya. Semoga next time bs jalan-jalan seru lagi, teh.

      Like

  2. Riska, suka masakan Menado ngga, baca tentang Menado aku ingatnya Rica-rica dan Tomohon hehe. Eh tapi dodol kenari juga aku suka, dulu suka dapat oleh-oleh dari teman.

    Like

    1. Sukaa bgt Teh May. Bubur manado yg paling aku sukaa, tambahin sambal roaa, ihh nikmat bgt. Lah, jd laper deh malem-malem.

      Like

  3. Sepertinya survey ke Menadonya cukup sering dan jangka waktunya lama ya mbak. Pekerjaan survei begini cocok untuk yang suka hiking sepertinya, jadi bisa menikmati survei plus digaji pula hehehe.

    Aku belum pernah ke Menado, salah satu kota yang sering disebut2 indah tapi belum juga kesampaian ke sana.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s